Persoalan rendahnya tingkat penelitian dosen sudah menjadi persoalan umum di Perguruan Tinggi. Berbagai upaya dan bermacam skema insentif sudah diupayakan oleh Pemerintah maupun Perguruan Tinggi untuk mendongkrak jumlah penelitian dosen, tapi tetap saja masih banyak dosen yang memilih untuk tidak melakukan penelitian. Seolah mati suri, penelitian dosen mungkin masih ada, namun jumlahnya sangat sedikit ataupun tidak banyak berkembang. Mati suri: hidup tidak, mati pun tidak.

Mati suri: hidup tidak, mati pun tidak.

Sebenarnya, sudah banyak skema hibah yang dapat disasar oleh peneliti yang disediakan oleh Dikti maupun masing-masing Perguruan Tinggi. Pemerintah maupun Perguruan Tinggi menggelontorkan dana penelitian yang tidak sedikit untuk mendorong dosen untuk meneliti dan mempublikasikan hasil penelitiannya. Namun seolah mendorong pohon dengan akar kuat menancap di tanah, upaya yang dilakukan tidak banyak membuahkan hasil.

Berikut saya rangkum (dari berbagai sumber) kemungkinan penyebab tingkat penelitian dosen yang rendah di Perguruan Tinggi

  1. Persepsi salah kaprah di masyarakat tentang anggapan bahwa “dosen = pengajar”.
    Banyak orang menganggap menjadi dosen itu mudah. Tinggal berangkat kerja ketika ada jam mengajar saja, lalu pulang. Kalau mahasiswa liburan, ikut libur. Wah enak banget, ya. Menganggap dengan gelar S2 sudah cukup untuk jadi modal sebagai dosen. Mengajar sambil bekerja, mengajar sambil berwirausaha, mengajar sambil mroyek, namun sesungguhnya yang menjadi sambilan adalah mengajarnya. Calon dosen seringkali tidak mengetahui kehidupan dan tanggung jawab dosen bukan hanya mengajar di depan kelas dengan rutinitas yang sama setiap tahunnya. Baru ketika berhadapan dengan tugas dosen yang membumbung tinggi, kita memasang bendera putih dan menyatakan “saya tidak sanggup mengemban tugas dosen lainnya…” dan mulai mundur satu per satu.
  2. Beban dosen di kegiatan non-penelitian sangat tinggi.
    Memang tugas dosen tidak hanya mengajar, namun pada kenyataannya, dosen harus mau mengajar dengan beban yang tinggi. Memperoleh mahasiswa sebanyak-banyaknya merupakan tujuan hampir semua perguruan tinggi, bahkan di perguruan tinggi negri. Seringkali beban dosen hanya diukur berdasarkan jumlah sks mengajar, sedangkan sks lainnya tidak masuk hitungan. Ya sks lainnya hanya merupakan sks sampingan, karena sks utamanya adalah mengajar. Kalau dianggap sebagai sks sampingan, tentu saja prioritasnya pun menjadi berbeda.
  3. Keberhasilan penelitian hanya diukur dari jumlah publikasi saja (atau lebih spesifik lagi, jumlah publikasi internasional yang terindeks).
    Beberapa berpendapat bahwa tidak ada yang salah dengan mengukur keberhasilan penelitian dengan jumlah publikasi. Hal ini ditunjukkan dalam salah satu kriteria penilaian kinerja penelitian dalam poin akreditasi oleh BANPT yang menghitung jumlah penelitian dosen di lokal, nasional, ataupun global, jumlah penelitian yang disitasi (tanpa perduli mengapa sitasi itu bisa tinggi/rendah), dan lain sebagainya. Meskipun sudah mulai ada pembenahan dengan adanya perbaikan borang akreditasi dengan 9 kriteria, cara mengukur yang lama masih dilestarikan dan telah berhasil membentuk budaya yang sudah banyak mengakar di kalangan akademisi. Akibatnya? tentu kemana-mana. Mulai dari kualitas hasil penelitian, ketidaksinambungan penelitian satu dengan penelitian lainnya, ketidaksinambungan penelitian dosen dengan penelitian mahasiswa, rendahnya impact/kebermanfaatan hasil penelitian, berkembangnya jurnal predator, terbitnya paper keroyokan yang authornya bisa sampai ratusan untuk mendorong sitasi, dan seterusnya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
  4. Keberhasilan penelitian hanya diapresiasi sebagai keberhasilan individu.
    Dosen dianggap sebagai pelari sprint, yang harus berlari sekencang-kencangnya di tracknya masing-masing. Tidak heran jika karir dosen adalah urusan masing-masing. Kalau saya ga meneliti, saya ga akan merugikan yang lainnya bukan? Kalau saya bisa lari kencang, saya tidak perlu membawa serta yang lainnya bukan? Bukankah semua urusan akan dikerjakan dan ditanggung masing-masing setiap dosa dan pahalanya?

Tentu saja, mengidentifikasi persoalan jauh lebih mudah daripada mengeksekusi solusi. Namun hanya menyalahkan keadaan tanpa bergerak ke arah solusi adalah hal yang tabu untuk dilakukan. Dalam pandangan saya, banyak faktor yang menjadi penyebab persoalan tersebut yang bersifat sistematis, sehingga sulit untuk melakukan perubahan apabila hanya dilakukan oleh segelintir orang saja. Oleh karena itu, tentu semuanya harus bergerak. Ya, tidak ada cara lain selain bergerak bersama. Berikut adalah beberapa kemungkinan hal yang dapat kita upayakan bersama-sama.

  1. Mengkalkulasi ulang beban dosen, dan menyesuaikannya sesuai dengan target yang diharapkan.
    Dosen kerjanya bukan hanya mengajar. Semua pun sudah tahu, bahwa tanggungjawab dan kehormatan dosen adalah menjalankan Tri, atau lebih tepatnya, Catur Dharma: 1) Pendidikan 2) Penelitian 3) Pengabdian Masyarakat 4) Kelembagaan. Oleh sebab itu, dalam merencanakan kegiatan, kita harus bisa mengkalkulasi bahwa beban yang kita ambil tidak melebih beban kerja normal (40-45 jam per minggu). Apabila 1 sks mengajar saja setara dengan 3*50menit (2.5 jam), maka mengajar 12 sks setara dengan beban kerja 30 jam. Kita harus berikan ruang 6 sks sisanya (setara dengan 6*2.5 jam atau 15 jam) untuk kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, dan juga kelembagaan. Namun sayangnya masih banyak yang menganggap bahwa 1 sks mengajar sama dengan 1 jam kita berdiri di depan kelas saja.
  2. Menghidupkan komunitas dosen dengan mengaktifkan peran seluruh dosen dalam skema “Pembinaan Dosen”.
    Setiap dosen harus punya peran. Mengembangkan budaya meneliti tidak cukup hanya diemban oleh segelintir orang yang memegang jabatan saja. Kita harus bisa mengambil peran dalam komunitas kita. Peran ini bisa diaktifkan dengan model pembinaan dosen. Misalkan, setiap dosen dengan kepangkatan AA membina dosen baru yang masih TP. Setiap Lektor wajib membina AA, dan seterusnya. Sehingga peran pengembangan lembaga ataupun pengembangan karir dosen bisa didistribusikan ke semua orang. Termasuk salah satunya, peran setiap dosen dalam menyusun target penelitian dan membina dosen binaannya. Namun tentu saja, peran ini harus didukung dengan kebijakan yang relevan.
  3. Memberi apresiasi lebih tinggi terhadap penelitian berkelompok daripada penelitian individu.
    Sesuai dengan pemaparan poin 2 tentang pembinaan dosen, tentu apresiasi terhadap penelitian berkelompok merupakan salah satu hal yang mendukung terjadinya proses pembinaan dosen. Di samping itu, penelitian multi disiplin juga akan memberikan impact yang lebih luas daripada penelitian yang dijalankan masing-masing bidang studi. Oleh sebab itu, menjadi anggota peneliti pun merupakan peran yang penting dan harus kita lakukan dengan sebaik-baiknya (dan juga diapresiasi sebaik baiknya), bukan hanya sekedar menebengkan nama saja.

Sungguh semua ini apabila dilakukan bersama-sama, tidak ada hal yang tidak mungkin. Kita bisa mulai mengambil peran sesuai dengan kewenangan dan kemampuan yang kita miliki masing-masing. Yuk semangat membangun bersama!

Disclaimer: maaf tulisan ini bukan merupakan hasil penelitian, tidak didukung oleh data yang valid. Untuk menjawab pertanyaan inipun bisa dibahas dan dijadikan sebagai penelitian tersendiri, sehingga hasilnya bisa lebih ilmiah dan terbukti.

“Tidak ada kehidupan tanpa ada kebersamaan”

Oleh: Indriani Noor Hapsari